CAHAYA TERSEMBUNYI DI LABIRIN SEVILLA
Aku masih mengingat
kata-kata yang kuucapkan saat bertekad meletakkan mimpiku di negeri paman Sam,
“Di negara ini aku akan menjadi fotografer terkenal.” Namun pada akhirnya, aku
terseret ke dalam lingkaran Arktik dan terdampar di semenanjung Skandinavia di
negara daerah matahari malam, Norwegia. Lalu, berbulan-bulan kemudian aku
menyeret kakiku ke tanah semenanjung berbentuk sepatu, Italia. Seminggu aku
menjelajah Pisa dan beberapa bulan tersesat di kota yang berada di atas Conca d’Oro, kota yang konon ditemukan
oleh Bangsa Funisia.
Lalu di sinilah aku
sekarang, tanah di sepanjang semenanjung Iberia, tepatnya di tanah kelahiran
ksatria Cervantes, Don Quixote, dan bagi para penonton opera sebagai latar Don Giovanni oleh Mozart, Carmen oleh Bizet, dan Barber of Seville oleh Rossini.
Pekerjaan sebagai
fotografer di kota yang tidak begitu terkenal bukanlah hal yang mudah bagiku.
Aku bukanlah fotografer kota tua, oleh karena itu aku selalu berkhayal
menginjakkan kaki di New York atau Tokyo, paling tidak kedua kota itu memiliki
pesona kota modern yang lebih baik dari Sevilla. Gedung pencakar langit,
lampu-lampu jalan, papan reklame, keramaian di sana sini, sulit menemukannya di
Sevilla. Tapi, ada satu hal yang membuatku tetap bertahan di kota ini, satu hal
yang menahanku untuk pergi, satu hal itu adalah cahaya yang tersembunyi.
“Kau akan keluar hari
ini?”
Setelah membuka pintu
dan menemukan langit Spanyol begitu cerah tanpa awan, aku menjawab dengan
mantap, “Iya.”
“Maaf, aku tidak bisa
menemanimu hari ini. Tapi kau bisa mengajak temanku.”
“Temanmu?”
“Kalau kau mau.”
Aku berpikir sejenak,
tentu saja itu tawaran menarik. Aku bisa saja tersesat di Sevilla, kota dengan
sejuta belokan, kota ini nampak seperti labirin raksasa. “Tentu saja.”
“Baiklah, aku akan
memintanya. Kau ingin bertemu dia di mana?”
***
Aku tidak tahu apa yang
aku pikirkan ketika menyebutkan Torre del
oro pada Kinan. Seketika yang muncul dipikiranku adalah menara emas berbentuk
diagonal di tepi sungai Guadalquvir.
“Torre del oro adalah menara yang melindungi sungai, perpustakaan Columbus
dengan koleksi naskahnya.”
Mendengar suara itu,
aku memutar badanku dengan cepat. Menemukan sosok pria jangkun tersenyum lebar
di hadapanku dengan mata tajamnya yang tenggelam di bawah alis tebal.
Benar-benar kesan Spanyol yang berbeda.
“Abdul Qasim?” tanyaku.
Pria itu mengangguk. “Ola!”
“Kau bisa berbahasa
Indonesia?”
“Tentu saja. Aku lahir
di Cordoba, ayahku orang Indonesia, ibuku orang Spayol.”
Aku mengangguk
menandakan aku mengerti penjelasannya. Kinan punya segala hal yang membuatku
betah di Sevilla, salah satunya teman-teman yang bisa berbahasa Indonesia.
“Kama Ruhua,” kataku
sambil mengulurkan tangan.
Sambil menjabat
tanganku pria itu berkata, “Abdul Qasim Khalaf.”
“Namamu seperti—.”
“Nama pakar di bidang
kedokteran pada masa Islam abad pertengahan,” kata Qasim menyambung kalimatku.
“Dia lahir di Madinatuz Zahra atau Madina Az-Zahra, daerah sekitar Cordoba. Dan
di barat dia dikenal dengan nama Abulcasis dan di kalangan Islam dikenal dengan
nama El Zahrawi. Karyanya adalah Al-Tasrif yang berisi berbagai topik tentang
kedokteran, termasuk gigi dan kelahiran anak. Kemudian karyanya ini
diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerardo dari Cremona pada abad ke-12
dan selama lima abad Eropa pertengahan, buku ini menjadi sumber utama dalam
pengetahuan bidang kedokteran di Eropa.”
Aku mengangguk-angguk
kagum dan sekaligus bangga. Dengan susah payah aku sedikit bergurau, “Kau tahu
semua hal tentang namamu.” Aku beredehem mengakhiri.
“Kau bekerja sebagai
fotografer?” tanya Qasim.
“Iya,” jawabku singkat.
“Boleh aku melihat
karya-karyamu sebelum kita menjelajah Sevilla?”
Aku terkesiap.
Mengerjap beberapa kali dan bertanya dengan kaget, “Untuk apa? Hasil fotoku di
Norwegia dan Italia sangat buruk, terutama Italia. Aku bukanlah fotografer kota
tua atau landscape pegunungan, dan aku benci kota-kota seperti itu.
Terdampar di Italia adalah hal yang benar-benar meresahkan bagiku, bukan karena
kota itu tidak indah, hanya saja keindahannya dilingkup—, kau tahukan sulitnya hidup sebagai orang Islam di
sana?”
Qasim menaikkan
bahunya, gestur dan mimiknya sama sekali memperlihatkan dia acuh tak acuh
dengan penjelasnku. Apakah pria ini tidak mendengarkanku? Dia sibuk
mengutak-atik kameraku.
“Coba lihat ini!”
pintanya sambil memperlihatkan Duomo de Pisa dan Menara Pisa yang sempat
terpotret olehku saat ada di Pisa. “Bukankah ini terlihat seperti masjid?”
Aku terkesiap, seketika
memutar cepat kepalaku untuk menatapnya. Apa yang dikatakan orang ini?
“Kau tidak percaya?” Qasim
mendengus, lalu melanjutkan, “Pada tahun 1918 dilaporkan adanya pembangunan
ulang kathedral Pisa. Ketika itulah ditemukan sebuah inskripsi berbahasa Arab
di puncak kubahnya. Prof Carlo Nallino menerjemahkannya dengan “Al-Fath,
si pematung – hamba-Nya”. Nallino berani memastikan bahwa Al-Fath adalah
orang yang sama dengan Al-Fath yang membangun Madina Az-Zahra. Nallino
sebenarnya tidak berani memastikan bahwa itu adalah masjid, tapi setidaknya ini
membuktikan bahwa Islam pernah masuk ke Italia Utara. Dan menaranya, menara
Pisa yang termasuk The Seven Wonders of
World itu, lantai atasnya benar-benar mirip masjid.”
Aku tidak menyadari
bahwa aku menahan nafas selama Qasim memaparkan fakta itu. Aku takjub, tapi
juga kaget. Benarkah Islam pernah memasuki Italia Utara?
“Oh ya, kau mengunjungi
Sisilia juga kan?” Qasim berhenti sejenak untuk melihatku mengangguk. “Aku
sudah lama ingin mengunjungi pulau itu, tempat berseminya peradaban dan ilmu
pengetahuan dari tangan muslim. Apa kau mengunjungi Gereja San Giovanni degli
Eremiti dan Katederal Lucera?”
“Tidak untuk Katedral
Lucera.”
“Kedua gereja itu
dulunya adalah masjid. Kapel Palatina, Al-Zisa, Gereja Martorana, Gereja San
Giovano degli Eremiti, Cuba, dan Gereja San Cataldo adalah banguna-bangunan
yang berarsitektur Islam sangat kental. Bahkan Gereja Martorana adalah gereja
yang menggunakan kaligrafi Arab sebagai dekorasinya.”
Aku tidak bisa
berkata-kata lagi, Qasim telah menyihirku menjadi seseorang yang benar-benar
menyesali perjalan sia-sianya ke Italia, terutama Sisilia. Aku sempat
mengunjungi beberapa gereja yang disebutkan Qasim, namun aku tidak pernah
memperhatikan hal-hal sepenting itu, sampai saat itu, bagiku kota-kota seperti
Palermo adalah kota yang membosankan. Dan saat ini, setelah mendengar kata demi
kata yang keluar dari mulut Qasim, aku tertarik untuk benar-benar serius
memotret dan mencari tahu tentang Islam dan kota-kota berbau tua. “Betapa
bodohnya aku. Mengapa aku tidak menyadari semua itu?”
“Kau bisa menebus
kebodohanmu itu di sini.”
“Torre del Oro?”
Qasim tersenyum manis.
Aku mengarahkan lensa
kameraku ke sudut-sudut indah menara dekagonal itu. Awalnya aku tidak begitu
takjub pada menara itu, kecuali bentuknya yang lain dari menara biasanya.
“Menara ini adalah
warisan Muslim Moor, dibangun pada akhir abad ke-13 saat dinasti Almohad
menguasai Andalusia.”
Aku berhenti memotret
dan mencoba menyimak penjelasan Qasim tentang warisan Islam di ibukota
Andalusia.
“Terdapat sebuah rantai
yang menghubungkan menara itu dengan menara lain di seberang sungai. Rantai itu
digunakan mencegah invasi kapal pasukan kerajaan Kristen masuk ke dalam kota.
Aku tidak heran mengapa Islam menguasai Sevilla hingga 8 abad lamanya.”
Sementara Qasim
menjelaskan dengan panjang lebar, aku kembali menggerakkan kameraku ke sebuah
sungai di samping menara Torre del oro.
“Sungai itu bernama Guadalquivir.
Namanya diambil dari bahasa Arab, Guad el Kevir.”
“Selanjutnya kita kemana?”
tanyaku.
“Real Alcazar.”
***
“Real Alcazar, orang
Indonesia biasa menyebutnya Istana Alcazar, walaupun sebenarnya Alcazar sendiri
berasal dari bahasa Arab yang berarti istana.”
Dari Torre del Oro, kami hanya memerlukan
waktu lima menit jalan kaki untuk sampai di Royal Alcazar of Seville melalui
Calle Santander dan Calle Santo Tomas. Di tempat ini, lensa mata dan lensa
kameraku berhasil mengabadikan bangunan berasitektur Arab yang sangat kental. Walaupun
kesan Gothik, Renaisans, dan Baroque tidak bisa diabaikan. Gabungan keempat
gaya ini disebut Mudejar, Mudejar adalah sebutan bagi muslim Spanyol,
setidaknya itu yang diberitahu Qasim sebelum kami benar-benar sampai di istana
ini.
“Bahasa Arab?”
“Yup! Istana ini adalah benteng pertahanan umat Islam pada tahun 913
M. Merupakan saksi bisu kejayaan Islam di Sevilla.”
Arsitektur khas Islam tampak
jelas pada desain pintu masuk ke kompleks istana. Desain pintunya
berhiaskan tulisan kaligrafi Arab. Hiasan serupa juga terdapat pada bagian
dinding, pilar, dan atap. Sayangnya aku tidak bisa masuk lebih dalam
karena perjalananku di Sevilla masih begitu panjang.
Kami melanjutkan perjalanan
ke Chatedral of Sevilla melalui Calle Fray Caferino Gonzales dan Av. De la Constituction.
Jalan ini dipilih agar kami bisa melihat cerita tentang ekspedisi pencarian
dunia baru di gedung tua berbentuk segiempat berarsitektur renaissans bernama
Archivo General de Las Indias.
Pada abad ke-16 gedung
ini adalah sebuah tempat untuk transaksi perdagangan. Namun, karena kegiatan
itu mengganggu kenyamanan pihak katedral yang ada di dekatnya, aktivitas
perdagangan pun dialihkan ke La Lonja dan gedung ini dijadikan tempat
penyimpanan arsip. Tahun 1785, arsip-arsip dari sejarah Columbus dan koloni
Filipina mulai berdatangan, menumpuk kertas menjadi buku hingga menjadi 43.000
dokumen dalam rak sepanjang 9 km yang terdiri dari 80 juta halaman dan 8.000
peta.
Tulisan tangan
penjelajah besar seperti Christopher Columbus, Hernan Cortez, Ferdinand
Magellan, dan Francisco Pizzaro juga dapat ditemukan di lantai paling atas
gedung tersebut, selain tentunya jejak tertulis negeri tersebut yang dikirim
dewan Hindia, instansi perdagangan, konsulat yang berada di Sevilla dan Cadiz,
serta pengadilan di Havana.
“Kama, apakah kau
tahu?” tanya Qasim tiba-tiba.
Aku berhenti memutar
lensa kameraku, lalu menyahut, “Tahu apa?”
“Columbus bukanlah orang
pertama yang menemukan benua Amerika.”
Jawabannya itu
membuatku tertegun, namun tidak sampai terkejut seperti sebelumnya.
“Apakah orang muslim
yang menemukannya?” tebakku.
Aku bisa melihat Qasim
mengangguk. “Di Amerika ada sebuah suku bernama Cheeroke, kepala sukunya
bernama Abde Khak dan Muhammad Ibnu Abdullah. Dan kepala sukunya yang terakhir
sebelum suku ini benar-benar punah adalah seorang muslim bernama Ramadan Ibnu
Wati.”
Dengan seksama dan
penuh minat, aku terus mendengarkan. “Pada abad ke-7, ditemukan terpahat pada
sebuah batu dari aksara Syllbary yang dihidupkan oleh orang bernama Sequoyah,
batu itu bertuliskan lafal Muhammad,” sambung Qasim.
Aku menunduk lesu.
Bukankah itu sudah bisa membuktikan, tapi pertanyaanku belum terjawab. Aku
mengangkat wajah dan kembali menatap Qasim dengan penuh minat.
“Seorang kepala suku
Ohiyesa pernah berkata: “In the life of the Indian, there was only
inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the
Eternal”. Perkataannya ini membuktikan
dua hal, yang pertama suku-suku di Amerika percaya akan adanya Tuhan yang tak
teraba oleh panca indera, yang kedua, mereka percaya tugas mereka adalah
menyembah pada Tuhan tersebut.”
Aku kembali tertegun. Apa yang mereka percayai benar-benar sama dengan
ajaran Islam yang ada di dalam Al-Quran, dalam surat Az-Zariat ayah 56, manusia
dan jin diperintahkan untuk menyembah hanya kepada Allah. Lalu, siapa yang
menemukan benua Amerika?
“Mereka adalah Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim
dari Kordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi,
menurut catatan Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi. Dalam bukunya, ‘Muruj
Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba,
Palos, pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah
yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali
dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan. Sebenarnya masih banyak lagi
penjelajah muslim sebelum Columbus, tetapi lebih baik kita lanjutkan perjalanan
kita. Hasil fotomu sudah cukup?”
Aku mengangguk mengiyakan. Lalu, mengikuti Qasim menuju Chatedral of
Seville yang adi dibelakang bangunan ini.
“Columbus sendiri menemukan bahwa orang-orang Carib, Karibia, adalah orang
muslim. Pada tanggal 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan
Pantai Kuba, Columbus mengakui melihat sebuah masjid.”
“Aku tidak kaget kalau masjid itu berubah menjadi gereja,” tukasku.
“Aku tidak tahu. Hanya saja reruntuhan masjid juga ditemukan di Kuba,
Meksiko, Texas, dan Nevada. Oh iya, kau tahu dua orang yang ikut dengan Columbus?”
“Aku tidak tahu. Di buku sejarah hanya Columbus yang menemukan benua
Amerika,” jawabku, lalu aku berpikir sejenak. “Benar juga, tidak mungkin Columbus
berlayar sendiri.”
“Dua orang itu adalah orang muslim, kapten kapal Pinta dan Nina, Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih
keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III,” jawab Qasim.
“Lalu kenapa hanya Columbus yang tercatat di buku sejarah?”
“Itu karena terjadi pengusiran 300.000 bangsa Yahudi oleh Raja
Ferdinand seorang kristen yang taat. Orang Yahudi menggalang dana untuk
pelayaran Columbus dan berita penemuan Amerika, dikirim pertama kali oleh Columbus
kepada kawan-kawannya orang Yahudi di Spanyol. Itulah mengapa media massa dan
publikasi dengan sangat cepat dikuasi oleh bangsa Yahudi.”
Sebanyak itukah sejarah yang tidak diketahui orang kebanyakan? Namun,
pada akhirnya, Islam adalah agama yang tangguh, yang tetap berdiri kokoh di
atas sejarah yang disembunyikan. Tanpa sadar, kami telah menempuh 400 meter
perjalanan dan sampai di Chatedral of Seville.
“Kama, sebenarnya masih ada sejarah tentang penemuan Amerika oleh
penjelajah Cina. Tapi nanti saya ceritakan, bagaimana kalau kita menjelajah
katedral ini dulu?”
Aku sebenarnya masih penasaran dengan benua Amerika dan penemunya.
Tapi, sesuatu seperti menarikku untuk mendengarkan cerita Qasim tentang
katedral Sevilla ini.
“Kama, pada tahun 1365, gempa bumi mengguncang Sevilla dan merusak
sebagian besar masjid Almohad, dan pada tahun 1401, kerajaan kristen membangun
katedral di atasnya. Dengan kata lain, Catedral de Seville menempati bangunan
gigantik bekas masjid Almohad. Katedral ini adalah ketedral terbesar ketiga
setelah St. Peter di Roma dan St. Paul di London,” ujar Qasim.
“Bukankah di dalam juga ada makam Columbus?” tanyaku.
“Iya. Petinya diangkat oleh empat orang dari empat kerajaan besar di
Spanyol. Kau tahukan kerajaan itu?”
“Castillia, Catalunya, Aragon, dan Navarre.”
Qasim mengangguk-angguk kagum. Tentu saja aku tahu, otakku tidak
sedangkal yang ia pikirkan, jika iya, mana mungkin aku bisa menjelajah Eropa
dari utara ke timur?
“Mau tahu bagian dari masjid yang masih berdiri kokoh?”
“Memangnya ada?”
“Tentu saja.”
“Seperti masjid di Aceh.”
“Kau tahu masjid itu?”
“Aku kan orang Indonesia.”
Setelah memutari katedral, berjalan di Av. de la Constitución dan Calle
Alemanes, kami sampai di sisi lain Chatedral of Seville. Mataku tertarik oleh sebuah
minaret di sudut katedral.
“Namanya La Giralda.”
Aku memutar kepala cepat ke arah Qasim. Dengan sedikit nada kesal, aku
menyungut, “Aku tahu. Mana mungkin aku tidak tahu.”
“Iya, iya ..., tapi apakah kau tahu bahwa menara itu adalah menara
adzan?”
“Awalnya aku tidak tahu, tapi setelah mendengar bahwa katedral ini
dulunya adalah masjid, bell tower ini mungkin dulunya adalah menara adzan.”
“Menara ini dulunya adalah menara paling tinggi di dunia. Indah ya?”
“Semua peninggalan Islam adalah hal yang benar-benar indah, bahkan
lebih indah dari menara-menara di tengah kota, eiffel, petronas. Lebih
indah juga dari gedung-gedung pencakar
langit milik New York atau Tokyo, lebih indah dari papan reklame, lampu jalan,
atau mobil-mobil yang berseliweran di tengah malam.”
“Sepertinya aku sudah mengubah seseorang dalam waktu sekejab.”
Aku menatap Qasim dengan tatapan yang boleh dibilang intimidatif.
“Maksudmu?”
Qasim memutar badan dan mengangkat bahu.
Aku terkekeh pelan, seketika menyungut, “Aku tertarik dengan sejarah
Islam bukan tertarik denganmu.”
“Aku tidak bilang kau tertarik denganku?”
“Apa?”
“Kau bisa lihat taman itu?”
“Iya.”
“Itu adalah Patios de los Naranjos. Taman besar dengan pepohonan jeruk
dan air mancur yang dulunya dijadikan tempat berwudhu dan membersihkan diri
sebelum umat muslim beribadah.”
Aku mengarahkan lensa kameraku ke taman tersebut. Sungguh indah, bahkan
sangat sangat indah, tanpa sadar aku meneteskan air mata. Tentu saja, air mata
ini tidak cukup untuk menebus kesalahanku membuang-buang waktu untuk tidak
bersyukur pada Allah, membuang-buang waktu untuk tidak mentadabburi
keagungannya, terima kasih Tharif, Tariq, dan Musa, yang telah membuka jalan ke
Eropa dan meninggalkan sejuta cahaya tersembunyi di benua ini. Yang kepada
mereka yang ingin mencarinya, maka akan menemukan kemuliaan Islam dan keagungan
Allah SWT.
“Kama, setelah ini kau mau kemana?”
“How about Granada,
Cordova, Toledo, Vienna, Paris, Rome, Palermo, Venice, ...?” Aku bahkan tidak
menyadari bahwa aku tidak menyebutkan New York, Tokyo, Hongkong, atau Las
Vegas.
Qasim telah membuka
mata hatiku untuk melihat keindahan-keindahan di balik sejarah peradaban Islam.
Ada 1001 atau bahkan lebih cahaya tersembunyi di balik rumitnya labirin
Sevilla.
Subscribe to:
Komentar (Atom)